Monday, 21 March 2016

Kebudayaan Bercorak Islam

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ciaoooo, gaez! Semoga sehat selalu ya, biar bisa nikmatin hidup ini dengan maksimal.




Sekarang gue mau berbagi informasi tentang kebudayaan. But first, gue mau ngasih tau dikit. Jadi, emak-bapak gue kan beda suku ya. Emak gue (biasa dipanggil umi-red) itu suku Jawa. Sedangkan bapak gue (biasa dipanggil abi-red) orang Makassar yang lahir dan tinggal di Lombok. Jadinya bisa dianggap orang dari suku Sasak(?)
Di rumah gue, gue rasa sih, pengaruh suku Jawa dan Sasak seimbang. Anak emak bapak gue ada 4. 2 mirip bapak gue, 2 mirip emak gue. Kita tinggal sama nenek dari emak gue, yang dimana beliau sangat Jawa sekali. Sedangkan mbak gue (PRT-red) itu orang asli suku Sasak. Walaupun gue tinggal di pulau Jawa, tapi gue gak jarang main ke Lombok. Jadi, gue menyimpulkan gaada suku dominan di keluarga gue dan gue mau cerita tentang kebudayaan bercorak Islam dari masing-masing suku. Check it out, gaez.
1.      Mauludan (Suku Jawa)
Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Sebagian masyarakat Muslim di dunia merayakan Maulid Nabi atau kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 rabiul awal dengan suka cita. Perayaan maulid nabi ini dirayakan di banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia serta negara lain yang memiliki komunitas muslim seperti India, Britania Raya, Rusia dan Kanada. Kendati dirayakan suka cita oleh semua umat muslim, pada hari Maulid Nabi di Negara Arab yang merupakan pusat Agama Islam, tidak ada libur nasional. Sebagian umat Islam menilai maulid nabi seharusnya dijadikan sebagai cara introspeksi diri dengan menepi atau beribadah lebih khusyuk lagi.
Sementara di Indonesia, Maulid Nabi, diperingati dengan berbagai acara keagamaan seperti pengajian, salawatan, pembacaan syair Barzanji dan lainnya. Tak hanya milik umat muslim, perayaan ini juga milik masyarakat Jawa secara umum. Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid Nabi disebut dengan Muludan. Masyarakat Solo mengenal dengan acara Muludan yang kemudian dirayakan dengan berbagai acara termasuk adanya gamelan sekaten.
Konon muludan ini awalnya dikenalkan pada masa kerajaan Demak oleh Walisongo kemudian dilanjutkan oleh keraton. Muludan digunakan sebagai cara dakwah Islam kepada masyarakat Jawa. Dengan pendekatan budaya, pihak keraton yakin Islam lebih mengena di hati masyarakat. Terbukti, tradisi Muludan yang juga disebut dengan Grebeg Muludan ini selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Solo dan sekitarnya. Pada era sekarang tradisi Grebeg Muludan diadakan oleh Keraton Kasunanan dengan serangkaian acara mulai sekatenan, gamelan sekaten hingga di puncak acara digelar grebeg muludan.
Sekaten atau upacara sekaten berasal dari kata Syahadatain atau kalimat syahadad. Acara ini merupakan acara peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang diadakan setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud atau Rabiul Awal. Acara diadakan di alun-alun utara Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Dulunya setelah Walisongo pada masa kerajaan Demak, Sultan Hamengkubuwana I, juga menggunakan tradisi ini sebagai media syiar agama Islam.
Upacara sekaten dibagi dalam beberapa hari. Hari pertama diadakan upacara malam hari diawali dengan iring-iringan abdi dalem yang membawa dua set gamelan Jawa yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal oleh prajurit Keraton.
Grebeg mulud ini merupakan puncak acara sekaten atau Muludan. Dua hari sebelum grebeg, diadakan acara tumplak wajik. Acara ini digelar di halaman istana Magangan pada pukul 16.00 sore. tumplak wajik merupakan acara kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang  dan lainnya. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu Jawa popular seperti  Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal Awil, dan lagu rakyat lainnya.
Sementara, acara puncak grebeg Muludan dimulai Pukul 08.00 WIB tanggal 12 Robiul Awal. Sebuah gunungan yang terbuat dari beras, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuran akan dibawa dari istana kerajaan Mataram kemudian dibagikan kepada masyarakat. Prosesi ini dikawal oleh 10 kompi prajurit keraton yang terdiri dari Wirabraja, Daeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa, dan Bugis.
Masyarakat percaya, bahwa Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah atau lading supaya terhindar dari malapetaka serta menyebabkan tanah menjadi subur untuk ditanami. Setelah dibawa dari keraton menuju alun-alun, gunungan ini biasanya langsung diserbu oleh masyarakat yang ingin mengambil dan membawanya pulang sebagai pembawa berkah.
Meski grebeg mulud telah berakhir, sekatenan ini masih terus berlanjut hingga akhir bulan dengan adanya malam sekatenan di alun-alun utara. Saat malam sekatenan ini alun-alun utara keraton disulap menjadi arena bermain anak-anak. Berbagai wahana bermain anak-anak tersedia. Para penjaja wahana ini berasal dari luar Solo. Tak hanya itu, mereka juga menyediakan makanan khas tradisional seperti onde-onde, jenang, dan lainnya. Banyak juga pedagang yang menjajakan gerabah serta pakaian. Malam sekaten ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat sekitar.
Di Solo, tradisi Grebeg Mulud ini sudah menjadi agenda rutin Pemkot Solo. Hampir setiap tahun acara ini selalu ada. Ribuan masyarakat memadati kompleks sekaten mulai awal di buka hingga selesai. Jumlahnya semakin meningkat saat puncak grebeg mulud.
2.      Lebaran Topat (Suku Sasak)
Tradisi Lebaran Ketupat di Lombok udah berlangsung turun-temurun semenjak ratusan tahun lalu, gaez. Selain dianggap sebagai rangkaian kegiatan untuk merayakan Idul Fitri, acara itujuga memiliki misi mempertahankan tradisi leluhur dan nenek moyang. Jika dikaji lebih mendalam, akan dijumpai banyak nilai-nilai yang terkandung dalam Lebaran Nine (wanita). Mulai dari nilai budaya, agama, hingga pesta kerakyatan.
Dari aspek agama misalnya, masyarakat / warga Sasak melaksanakan Perayaan Lebaran Ketupat dengan melakukan kegiatan-kegiatan ritual Keagamaan. Diantaranya adalah berziarah ke makam para wali /ulama terkenal yang telah berjasa membawa agama Islam ke Pulau Lombok. Di Kota Mataram, masyarakat biasanya akan datang merayakan Tradisi Lebaran Ketupat ke dua tempat bersejarah, yaitu Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq di Tanjung Karang.
Pada kegiatan perayaan Lebaran Ketupat, Makam Loang Baloq yang berlokasi tepat di sebelah Pantai Tanjung Karang Mapak akan penuh sesak oleh peziarah sejak pukul 07.00 pagi. Selain memanjatkan doa, mereka juga berebutan untuk mencuci muka dan kepala dengan air di atas makam yang dianggap keramat tersebut. Sama halnya dengan situasi yang berlangsung di Makam Bintaro, dalam ziarah kubur, para peziarah sejatinya tidak hanya memanjatkan doa kepada sang Khalik, namun juga melakukan berbagai macam ritual keagamaan dan atraksi simbolik perayaan Tradisi Lebaran Ketupat. Diantaranya adalah mencukur rambut bayi yang biasa disebut ngurisan. Tradisi ini diyakini akan menjadikan anak tersebut anak yang saleh dan sukses di masa yang akan datang.
Tidak hanya sebatas itu, perayaan Lebaran Ketupat tersebut juga disebut menjadi haul bagi mereka yang telah mencapai kesuksesan atau rezeki yang lebih dalam hidupnya. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka datang dengan membawa perbekalan berupa makanan berupa ketupat, pelalah ayam, daging, opor telur, pakis, paku, urap-urap, dan plecing kangkung yang kemudian dimakan beramai-ramai di area / halaman makam.
Menurut penuturan budayawan Sasak, H. Lalu Anggawa Nuraksi, dari aspek religius atau agama, Lebaran Topat mengandung makna bahwa di hari itu umat Muslim membelah hati dari segala sifat buruknya. Belah ketupat atau topat dianalogikan seperti membelah sebuah hati. “Sehingga orang Sasak harus melakukan belah topat di makam para wali,” katanya.
Perkembangan saat ini khususnya di Lombok, perayaan Lebaran Topat juga dikaitkan dengan kegiatan pariwisata atau pelesir. Pada saat Lebaran Topat warga berbondong-bondong menyerbu tempat-tempat wisata. Setelah selesai berziarah ke Makam, para pengunjung lalu berpindah ke jalur pantai, mulai Pantai Bintaro hingga ke Pantai Tanjung Karang. Anggawa mengatakan masyarakat boleh merayakannya dengan bersenang-senang asalkan tidak berlebihan. “Setelah ke makam boleh ke pantai tapi tidak boleh bertentangan dengan norma agama dan budaya,” ujarnya.
 Menyusuri tepi pantai sambil membawa hidangan ketupat yang diramu dan dibumbui dengan bahan-bahan segar ala Pulau Lombok menjadikan tradisi Lebaran Ketupat ini menjadi terlihat unik, ditambah lagi dengan berbagai pertunjukan musik tradisional yang diselenggarakan oleh Pemerintah dalam rangka upaya pelestarian budaya dan Tradisi.
Dalam kepercayaan masyarakat Sasak, ketupat sebagai hidangan wajib tidak boleh dibuka dengan menarik bungkus atau janurnya, tapi harus dibelah menggunakan pisau. Jika tetap membuka jalinan janur dari ketupat tersebut, orang Sasak bisa kepusaq (kesasar). Lebaran Topat juga bermakna sebagai wujud rasa syukur. Dapat juga diartikan dengan melebarkan taubat. Dituturkan Anggawa, konon dulu para wali yang melakukan syiar agama selalu membawa ketupat sebagai bekal utama.
Tradisi Lebaran Ketupat dan Perang Topat di LombokSelain wisata alam yang tersebar di berbagai penjuru, di Lombok juga terdapat banyak sekali wisata budaya, diantaranya adalah “TRADISI PERANG TOPAT” yang merupakan tradisi turun temurun yang mulai dilakukan sepeninggal penjajahan Bali di Lombok di masa lampau. Tradisi ini di lakukan dengan cara saling lempar dengan menggunakan ketupat antara Ummat Islam dan Ummat Hindu Lombok. Ketupat yang telah digunakan untuk berperang seringkali diperebutkan, karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panennya bisa maksimal. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan. Dengan menggunakan pakaian adat khas Sasak dan Bali ribuan warga Sasak dan umat Hindu bersama-sama dengan damai merayakan upacara keagamaan yang dirayakan tiap tahun di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Tradisi Perang Topat yang diadakan di Pura terbesar di Lombok (peninggalan kerajaan Karangasem) ini merupakan pencerminan dari kerukunan umat beragama di Lombok. Prosesi Perang Topat dimulai dengan mengelilingkan sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah hasil bumi sebagai sarana persembahyangan dan prosesi ini didominasi masyarakat Sasak dan beberapa tokoh umat Hindu yang ada di Lombok. Sarana persembahyangan seperti kebon odek, sesaji ditempatkan didalam Pura Kemalik.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan perang topat, bertepatan dengan gugur bunga waru atau dalam bahasa Sasaknya “rorok kembang waru” yakni menjelang tenggelamnya sinar matahari sekitar pukul 17.30. Perang topat merupakan rangkaian pelaksanaan upacara pujawali yaitu upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.
Dalam perayaan Lebaran Topat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kita dapat mengetahui bahwa perayaan tersebut mengandung dua dimensi yaitu dimensi sakral dan sosial. Dimensi sakral berkaitan dengan persepsi dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan dimensi sosial berkaitan dengan upaya menjaga harmoni kehidupan antar sesama.      
Penggunaan ungkapan Lebaran Nine atau lebaran wanita terhadap Lebaran Topat menunjukkan bahwa Lebaran ini mempunyai posisi penting dalam ekspresi keislaman masyarakat Lombok. Lebaran Topat adalah pasangan Lebaran Mame (Idul Fitri). Oleh karena itu, perayaan Lebaran Topat agaknya mempunyai tujuan yang sama dengan Lebaran puasa Ramadhan. Yaitu untuk mencapai kehidupan yang fitri, suci.
Penggunaan ketupat yang berbentuk segi empat sebagai nama Lebaran dan menu makan utamanya merupakan khasanah kearifan lokal masyarakat untuk mengingatkan manusia terhadap asal muasalnya. Ketupat berbentuk segi empat menunjukkan bahwa manusia terdiri dari air, tanah, api dan angin.
Lebaran Topat juga bisa diartikan menjauhkan diri dari nafsu kebendaan dan membersihkan batin dari sikap dengki dan iri hati setelah nuraninya terjerembab oleh ego dan kemeriahan budaya materi yang semu. Ritual berseraup atau membasuh muka dengan air memberi makna bahwa tindakan tersebut merupakan cara untuk membersihkan kotoran yang melekat di wajah. Jika wajah dan hatinya bersih, maka orang itu tidak akan sakit baik secara fisik ataupun mental.



Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad#Perayaan_di_Indonesia
Well,  udah dulu ya, gaez….. Begitulah sedikit bagian dari kekayaan kebudayaan di Indonesia. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Semoga bermanfaat. Ciaooo!
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Wednesday, 16 March 2016

Sunan Gunung Jati dan Fatahillah itu siapa?

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ciao, gaeeeeeeeeeeeeeeeeeez! Come stai? Tau gak sih? Gue minggu lalu baru aja UTS. Kalo mau tau kabar nilai mtk gue, gue belom bisa ngasih tau. Tapi, gue sudah pasrah. Da aku mah apa.
                Nah, sekarang gue mau bahas tentang siapakah Fatahillah dan Sunan Gunung Jati itu? Orang yang samakah? Atau selintas sama namun nyatanya berbeda? Hmmm…

Pandangan sejarawan  yang mengatakan bila Fatahillah identik dengan Sunan Gunung Jati mempunyai pengaruh yang amat luas di kalangan sejarawan. Hampir semua kepustakaan yang ada mengenai sejarah Indonesia hingga 1970-an, khususnya sejarah Jakarta, Banten, dan Cirebon, masih menganggap tokoh Fatahillah identik dengan Sunan Gunung Jati.
Berdasarkan informasi dari buku Sunan Gunung Jati: Sekitar Komplek Makam dan Sekilas Riwayatnya karya Hasan Basyari, Fatahillah atau juga disebut Faletehan dan Syarif Hidayatullah merupakan sosok yang berbeda.
Syarif Hidayatullah adalah putri Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda'im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma'illiyah Saudi Arabia. Mereka mempunyai dua putera, Syarif Nurullah yang melanjutkan kedudukan ayahnya sebagai Amir (penguasa) dan Syarif Hidayatullah yang bersama ibunya kembali ke tanah Jawa sepeninggal Maulana Ishaq Syarif Abdillah.
Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah seorang ulama besar dan muballigh yang lahir turun-temurun dari para ulama keturunan cucu Muhammad, Imam Husayn. Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah Musafir besar dari Gujarat, India yang memimpin putra-putra dan cucu-cucunya berdakwah ke Asia Tenggara, dengan Campa (pinggir delta Mekong, Kampuchea sekarang) sebagai markas besar. Salah satu putra Syekh Jamaluddin Akbar (lebih dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar) adalah Syekh Ibrahim Akbar (ayah Sunan Ampel).
Oleh Pangeran Cakrabuana yang menjadi penguasa Caruban, Syarif Hidayatullah diperkenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan agama Islam. Hingga akhirnya Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Karena usianya yang sudah lanjut, Pangeran Cakrabuana tahun 1479 menyerahkan kekuasaan kepada Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah Islam melalui Syarif Hidayatullah mulai berkembang pesat.
Fatahillah yang biasa disebut Faletehan atau Kyai Fathullah adalah seorang ulama dari Pasai Aceh. Ketika Pasai dan Malaka direbut Portugis, ia hijrah ke tanah Jawa untuk memperkuat armada kesultanan-kesultanan Islam di Jawa (Demak, Cirebon dan Banten) setelah gugurnya Raden Abdul Qadir bin Yunus (Pati Unus, menantu Raden Patah Sultan Demak pertama). Sekitar tahun 1525 ia ke Jepara dan menikah dengan Nyai Ratu Pembayun (adik Sultan Trenggana dari Demak).
Ia kemudian diangkat Raden Patah sebagai panglima pasukan Demak yang berangkat ke Sunda Kelapa bersama pasukan Cirebon menghadapi Portugis untuk mempertahankan pelabuhan Sunda Kelapa. Kemudian beliau bersama pasukannya menaklukkan daerah Banten dan Sunda Kalapa. Setelah kemenangan itu dan juga setelah Sultan Trenggana meninggal, Ratu Ayu yang merupakan putri Syarif Hidayatullah menikah dengan Fatahillah (Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual terbitan Kompas). Jadi bisa dikatakan Fatahillah merupakan menantu dari Syarif Hidayatullah.
Pada akhir 1990-an, Sultan Sepuh Cirebon pun mengkonfirmasikan perbedaan dua tokoh ini dengan menunjukkan bukti dua buah makam yang berbeda. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati sebenarnya dimakamkan di Gunung Sembung (di kompleks makamnya, tertulis bahwa ia wafat tahun 1568), sementara Fatahillah (yang menjadi menantu beliau dan Panglima Perang pengganti Pati Unus) dimakamkan di Gunung Jati (tertulis di makamnya bahwa beliau wafat tahun 1570.

Jadi, saya berpendapat bahwa Sunan Gunung Jati dan Fatahillah merupakan dua sosok yang berbeda.



Udah dulu yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Makasih udah baca post ini:p Ciao, gaez!
Wassalamu'alaikum wr. wb.






Sumber referensi:


Monday, 22 February 2016

Agama Hindu & Buddha Masuk ke Indonesia

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ciaooooo! Eh, gaez! Pernah mikirin gak sih gimana caranya agama Hindu & Buddha masuk ke Indonesia? Da kalo gua mah, jujur aja ya, belom pernah. Hingga tersampaikan pada hamba pelajaran IPS pas SD dan SMP, ditambah pelajaran Sejarah Indonesia di SMA sekarang.

 Well, langsung aja ya, gaez. Check this out!

Masuknya kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia melalui proses yang panjang. Berbagai pendapat para ahli meskipun masih berupa dugaan sementara, cukup berguna untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana proses masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.

                 Teori tentang masuknya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi dalam dua pandangan. Pendapat pertama menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan Hindu-Buddha (teori Waisya, teori Ksatria, dan teori Brahmana). Pendapat kedua mengemukakan peran aktif orang-orang Indonesia dalam menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia (teori Arus Balik). Ditambah dengan teori sudra yang menyatakan bahwa penyebaran agama hindu di indonesia dibawa oleh orang-orang india yang berkasta sudra. Karena mereka dianggap sebagai orang-orang buangan.
1.  Teori Waisya
            Teori Waisya dikemukakan oleh N. J. Krom yang menyatakan bahwa golongan Waisya (pedagang) merupakan golongan terbesar yang berperan dalam menyebarkan agama dan kebudyaan Hindu-Budha. Para pedagang yang sudah terlebih dahulu mengenal Hindu-Budha datang ke Indonesia selain untuk berdagang mereka juga memperkenalkan Hindu-Budha kepada masyarakat Indonesia. Karena pelayaran dan perdagangan waktu itu bergantung pada angin musim, maka dalam waktu tertentu mereka menetap di Indonesia jika angin musim tidak memungkinkan untuk kembali. Selama para pedagang India tersebut tinggal menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Dari sinilah pengaruh kebudayaan India menyebar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
            Teori waisya menyatakan bahwa penyebaran agama hindu ke indonesia dibawa oleh orang-orang india yang berkasta waisya. Karena mereka terdiri atas para pedagang yang datang dan kemudia menetap di indonesia. Bahkan banyak diantara para pedagang itu kawin dengan wanita indonesia.
  • Kelebihan: Banyak Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia dan para pedagang yang berasal dari India dan menyebarkan agama Hindu-Buddha ketika berdagang
  • Kelemahan: Para Pedagang tidak mengerti bahasa sangsekerta dan huruf pallawa
2.  Teori Ksatria
Teori Ksatria berpendapat bahwa penyebaran kebudayaan Hindu-Budha yang dilakukan oleh golongan ksatria. Pendukung teori Ksatria, yaitu:
a.       C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.
b.      Mookerji mengatakan bahwa golongan ksatria dari Indialah yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia. Para Ksatria ini selanjutnya membangun koloni-koloni yang berkembang menjadi sebuah kerajaan.
c.       J.L. Moens menjelaskan bahwa proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 ada kaitannya dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Sekitar abad ke-5, ada di antara para keluarga kerajaan di India Selatan melarikan diri ke Indonesia sewaktu kerajaannya mengalami kehancuran. Mereka itu nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.
            Teori kesatria: menyatakan bahwa penyebaran agama hindu ke indonesia dibawa oleh orang-orang india berkasta kesatria. Hal ini disebabkan kekacauan politik di india, sehingga para kesatria yang kalah melarikan diri ke indonesia. Mereka lalu mendirikan kerajaan-kerajaan serta menyebarkan agama hindu.
  • Kelebihan: Kaum Ksatria menunjukan rasa semangat dalam berpetualang ke seluruh dunia
  • Kelemahan: Para Ksatria tidak memahami bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa
3.  Teori Brahmana
       Teori ini dikemukakan oleh Jc.Van Leur yang menyatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang datang ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana (golongan agama) yang sengaja diundang oleh penguasa Indonesia. Pendapatnya didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Di India bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan dan hanya golongan Brahmana yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut.
           Teori ini mempertegas bahwa hanya kasta Brahmana yang memahami ajaran Hindu secara utuh dan benar. Para Brahmanalah yang mempunyai hak dan mampu membaca kitab Weda (kitab suci agama Hindu) sehingga penyebaran agama Hindu ke Indonesia hanya dapat dilakukan oleh golongan Brahmana.
            Teori brahmana menyatakan bahwa penyebaran agama hindu ke indonesia dilakukan oleh kaum brahmana. Kedatangan mereka ke indonesia untuk memenuhi undangan kepala suku yang tertarik dengan agama hindu. Kaum brahmana yang datang ke indonesia inilah yang menyebarkan agama hindu kepada masyarakat indonesia.
  • Kelebihan: Di Indonesia, banyak prasasti Hindu-Buddha yang menggunakan bahasa sansekerta dan huruf pallawa. Bahasa tersebut pada saat itu hanya dikuasi oleh kaum Brahmana.
  • Kelemahan: Dalam tradisi Hindu-Buddha kaum Brahmana pantang menyebrang lautan.
4.  Teori Arus Balik/Nasional
         Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch yang menjelaskan peran aktif orang-orang Indonesia dalam penyebaran kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Menurut Bosch, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah orang-orang India yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Budha. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berziarah dan belajar agama Hindu-Budha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya pada masyarakat Indonesia yang lain.

  • Kelebihan:
  1. Ada kemungkinaan para bangsawan di Indonesia pergi ke India untuk belajar agama Hindu-Budha dan Budaya, tujuanya agar dengan ilmu yang mereka dapat dari india, para bangsawan bisa membuat kekuasaan di Indonesia dengan mencontoh kebudayaan Hindu-Buddha
  2. Adanya bukti tertulis tentang perginya utusan Sriwijaya menuju India untuk belajar.

  • Kelemahan: Kemungkinaan orang Indonesia untuk belejar agama Hindu-Buddha ke india sulit, karena pada masa itu oran indonesia masih bersifat pasif. Lagipula, teori arus balik membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. Mulai dari dikirimnya pelajar sampai pendakwahan ajaran ini.
5.   Teori Sudra
         Teori ini dikemukakan oleh van Faber. Teori ini menjelaskan bahwa di India terjadi banyak peperangan, akhirnya para budak bermigrasi ke wilayah Indonesia dan terjadi perkawinan campuran dengan masyarakat pribumi.
  • Kelebihan: Kaum Sudra di India memang benar-benar tertindas. Hal tersebut menjadi alasan yang mendasar perginya kaum Sudra dari India.
  • Kelemahan: Kaum Sudra adalah kasta yang paling rendah di India. Golongan ini sebagian besar diisi oleh budak atau pekerja kasar. Maka, golongan ini tidak mungkin menguasai huruf pallawa, karena hanya kaum brahman lah yang dapat mengerti huruf pallawa. Sedangkan pasasti di Indonesia menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta.


Jalur Masuknya Ajaran Hindu-Buddha ke Indonesia

                Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
  • Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia.
  • Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar.
  • Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas.
  • Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Buddha.

Indonesia sebagai negara kepulauan letaknya sangat strategis, yaitu terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Indonesia dan Pasifik) yang merupakan daerah persimpangan lalu lintas perdagangan dunia. Untuk lebih jelasnya, silahkan amati gambar peta jaringan perdagangan laut Asia Tenggara yang di atas.
Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi beralih kejalur laut, sehingga secara tidak langsung perdagangan antara Cina dan India melewati selat Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan aktif dalam perdagangan tersebut.
Akibat hubungan dagang tersebut, maka terjadilah kontak/hubungan antara Indonesia dengan India, dan Indonesia dengan Cina. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab masuknya budaya India ataupun budaya Cina ke Indonesia.

Terus apa bukti-bukti dari pengaruh agama Hindu & Buddha ini?

Pada perkembangan selanjutnya, agama Hindu lebih banyak berpengaruh daripada Buddha. Bukti agama Hindu lebih dahulu masuk ke Nusantara adalah kerajaan kerajaan tertua di Indonesia, yaitu Kutai, beragama Hindu. Kerajaan Tarumanegara yang hadir setelahnya juga beragama Hindu.
Bukti lainnya adalah adanya keterangan seorang penjelajah Cina bernama Fa Hsien yang mengatakan bahwa tidak banyak penganut agama Buddha di Ye-Po-Ti atau pulau jawa. Penjelajah Cina ini datang di pulau Jawa pada tahun 414 M.
Bukti - bukti berikut ini memaparkan tentang pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain:
  • Di Sempaga, Sulawesi Selatan ada arca Buddha bergaya amarawati dari India Selatan di Bukit    Siguntang Sumatra Selatan dan di kota Bangun, Kutai. Arca ini bergaya gandhara India Utara
  • Adanya prasasti bertuliskan Huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta di Kutai dan Tarumanegara.
  • Banyaknya penganut Hindu dan Buddha di nusantara atau Indonesia.
  • Berkembangnya kesenian yang bercorak hindu-budha seperti seni patung di Indonesia.
  • Penggunaan kata warman sebagai nama raja seperti raja di India.
  • Munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia memengaruhi kehidupan masyarakat di  kepulauan nusantara .
  • Masyarakat nusantara menggunakan bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa dalam kehidupan sehari hari.
  • Adanya sistem kemaharajaan.
  • Adanya kitab-kitab sastra seperti Ramayana dan Mahabharata yang bercorak Hindu.

Nah, itu dia sekilas info tentang awal dari agam Hindu & Buddha di Indonesia. Sekian dulu ya, gaeeezzzzz.... Salve!
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Sumber referensi: http://baldanhanin.weebly.com/blog/-teori-masuknya-hindhu-buddha-ke-indonesia
http://pelajaran-sma123.blogspot.co.id/2014/11/kelebihan-dan-kelemahan-teori-masuknya.html
http://maarifuru-ic.blogspot.co.id/2015/03/teori-masuknya-hindu-buddha-di-indonesia.html
http://nabilllaaaa.blogspot.co.id/2016/02/teori-masuknya-agama-hindu-buddha-ke.html

Monday, 1 February 2016

Periodesasi Zaman Batu?

Assalamu'alaikum wr. wb.   

   Ciao, gaez. Ketemu lagi sama gue nih. Sekarang gue mau ngasih tau perihal zaman batu. Dimulai dari yang pertama, yang tertua, adalah zaman Paleolitikum. Dan diakhiri masa Megalitikum. Ready? Set.. Go! 

A.    Zaman Paleolitikum
   Paleolitikum a.k.a. Zaman Batu Tua (Bahasa InggrisPaleolithic atau Palaeolithic, Yunani: παλαιός (palaios) — purba dan λίθος (lithos) — batu) adalah zaman prasejarah yang bermula kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM - 10.000 SM. Tetapi ada pula yang memperkirakan zaman paleolitikum ini berlangsung kira-kira pada enam ratus ribu tahun yang lalu (masa pleistosen awal).
   Pada zaman berburu dan meramu makanan tk. sederhana ini, manusia Peking dan manusia Jawa telah ada. Di Afrika, Eropa dan Asia, manusia Neanderthal telah hidup pada awal tahun 50.000 SM, manakala pada tahun 20 000 SM, manusia Cro-magnon sudah menguasai kebudayaan di Afrika Utara dan Eropa. Bahkan beberapa perkembangan kebudayaan ditemukan di sekitar Pacitan (ditemukan oleh Von Koenigswald) dan Ngandong.
   Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan (biji-bijian, umbi-umbian, serta dedaunan). Mereka tidak bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan sehari-hari. Alat-alat ini juga digunakan untuk mempertahankan diri dari musuh.
   Zaman ini dibuktikan dengan adanya fosil-fosil manusia purba, seperti:
1. Meganthropus Paleojavanicus (sekaligus yang tertua).
2. Pithecanthropus Erectus (Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Robustus).
3. Homo Erectus (Homo Wajakensis, Homo Soliensis).
   Sedangkan artefak yang ditemukan antara lain:
1. Flakes (alat penyerpih berfungsi misalnya untuk mengupas, menguliti).
2. Chopper (kapak genggam/alat penetak).
3. Peralatan dari tulang. 
  Proses pembuatan kapak batu: 
1. Memilih batu yang cocok dan mudah dibentuk.
2. Batu tersebut dipukulkan dengan menggunakan batu yang lebih keras.
3. Pembentukan dengan cara dihaluskan menggunakan kapak tulang, tangan juga dilindungi dengan kulit.
 Ciri ciri kehidupan pada masa paleolitikum antara lain:
1. Hidupnya nomaden atau selalu berpindah-pindah tempat.
2. Hidup dalam kelompok-kelompok kecil agar memudahkan mereka bergerak dalam mencari makanan.
3. Hidupnya sangat tergantung pada alam sekitar mereka.
4. Masih menggunakan alat-alat yang sangat sederhana untuk mendukung kegiatan mereka mencari makan. Alat yang dibuat terbuat dari batu dan tulang, dan masih dalam bentuk yang sangat kasar, Contohnya kapak genggam yang berfungsi untuk memotong, menggali dan menguliti binatang.
5. Masih menggunakan bahasa yang sederhana untuk berkomunikasi.
6. Belum mengenal seni.
 Zaman paleolitikum dibagi menjadi 3 periode yaitu:
1. Zaman Paleolitikum Tua
   Periode ini merupakan periode pertama kali manusia berkembang ke arah yang lebih berbudaya kira-kira 15.000 tahun yang lalu. Pada masa ini muncul peralatan dari batu yang dibuat dengan sistem benturan, yaitu dengan membenturkannya pada batu lain yang lebih keras. Bukti-bukti yang ditemukan dibeberapa tempat, misalnya di dekat danau Turkana, di Kenya, dan di Etiopia Selatan dan Jurang Olduvai. Tradisi pembuatan alat – alat ini disebut dengan tradisi peralatan Oldowan. Tradisi alat oldowan ini merupakan kemajuan teknologi yang penting bagi Hominida. Keuntungan utama dari kemunculan alat dari tradisi Oldwan ini adalah semakin banyak sumber daya alam yang dapat didayagunakan dalam waktu yang lebih singkat, dengan tenaga yang lebih sedikit, dan dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi.

2. Zaman Paleolitikum Madya
   Pada periode ini manusi purba diperkirakan telah memiliki kepercayaan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannnya artefak – artefak di Situs Mousterian yang mengungkapkan adanya pemujaan pada binatang pada waktu itu.

3. Zaman Paleolitikum Muda
   Pada periode ini manusia purba sedikit lebih berkembang. Merek mulai menemukan peralatan – peralatan berburu seperti panah, tombak, dan pisau batu yang menyempurnakan teknik berburu mereka. Pada masa ini, banyak sekali kebudayaan yang muncul karena penyebaran manusia yang telah luas hingga ke pelosok bumi.

B.    Zaman Mesolitikum
   Mesolitikum atau Zaman Batu Madya (Bahasa Yunani: mesos "tengah", lithos batu) adalah suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda. Istilah ini diperkenalkan oleh John Lubbock dalam makalahnya "Zaman Prasejarah" (bahasa Inggris: Pre-historic Times) yang diterbitkan pada tahun 1865.
   Zaman mesolitikum adalah zaman di mana manusia masih menggunakan batu sebagai alat dalam kegiatan sehari – harinya. Zaman mesolitikum sendiri disebut dengan zaman batu tengah dan terjadi pada masa holsen sekitar 10. 000 tahun yang lalu.
  Pada zaman mesolitikum di Indonesia, manusia hidup tidak jauh berbeda dengan zaman paleolitikum, yaitu dengan berburu dan menangkap ikan, namun manusia pada masa itu juga mulai mempunyai tempat tinggal agak tetap dan bercocok tanam secara sederhana. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche) sehingga di lokasi-lokasi tersebut banyak ditemukan berkas-berkas kebudayaan manusia pada zaman itu.
  Kjokkenmoddinger yang diambil dari bahasa Denmark, yaitu kjokken yang berarti dapur dan modding yang berarti sampah. Jadi, Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur. Dalam pengertian yang sebenarnya, Kjokkenmoddinger adalah fosil yang berupa timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput sehingga mencapai ketinggian ± 7 meter. Fosil ini ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatera, yakni antara daerah Langsa hingga Medan. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba pada zaman ini sudah mulai menetap.
   Sedangkan Abris Sous Roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. Ceruk-ceruk di dalam batu karang memberikan perlindungan terhadap hujan dan panas. Di dalam dasar gua ini didapatkan banyak peninggalan kebudayaan, dari jenis paleolitikum sampai permulaan neolitikum, tetapi sebagian besar dari zaman mesolitikum.
   Penyelidikan terhadap abris sous roche dilakukan oleh van Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung (Ponorogo, Madiun), dari tahun 1928-1931. Alat-alat yang ditemukan banyak sekali macamnya : alat-alat bantu, seperti ujung panah dan flakes, batu-batu penggilingan, kapak-kapak yang sudah diasah, alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, dll. Kebanyakan terbuat dari tulang sehingga disebut Sampung Bone Culture.
   Dibandingkan dengan zaman paleolitikum, pada zaman ini manusia mulai mengalami perkembangan budaya yang lebih cepat. Perkembangan budaya yang cepat ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah keadaan alam yang lebih stabil. Akibatnya, manusia pada zaman ini hidup dengan lebih tenang, sehingga mereka bisa mengembangkan kebudayaannya. Salah satu perkembangannya adalah manusia pada zaman itu sudah mempunyai kemampuan membuat kerajinan gerabah dari tanah liat.
   Mereka juga sudah mulai bercocok tanam meskipun dengan cara yang masih sederhana. Manusia purba pada masa ini masih menggunakan alat – alat yang diambil dari tulang dan tanduk hewan untuk digunakan dalam kehidupan sehari – hari seperti pada masa mengumpulkan makanan tingkat awal atau paleolitikum. Bahkan, mereka telah mulai mengenal kepercayaan.
   Berdasarkan keterangan diatas, ditambah dengan beberapa keterangan lain, dapat disimpulkan bahwa ciri Zaman Mesolitikum adalah :
1. Manusia di zaman ini sudah tidak lagi nomaden atau menetap di gua, maupun di pantai.
2. Manusia zaman ini sudah mengumpulkan makanan dan bercocok tanam.
3. Manusia zaman ini sudah bisa membuat kerajinan dari gerabah.
4. Ditemukannya kyokkenmodinger (bukit-bukit kerang hasil sampah dapur).
5. Ditemukannya abris sous roche (gua-gua tempat tinggal).
6. Manusia zaman tersebut telah mengenal seni berupa lukisan pada dinding gua, seperti lukisan pada dinding gua, lukisan bercap tangan dan babi hutan.
7. Alat-alat yang digunakan disebut pebble (kapak sumatra).
8. Manusia di zaman ini sudah mengenal kepercayaan.

C.     Zaman Neolitikum
Neolitikum atau Zaman Batu Muda adalah fase atau tingkat kebudayaan pada zaman prasejarah yang mempunyai ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar, dimulai sekitar tahun 1500 SM di Indonesia. Zaman ini tentunya sudah lebih maju jika dibandingkan dengan zaman sebelumnya, yaitu Paleolitikum dan Mesolitikum. Neolitikum bahkan juga sering disebut sebagai revolusi budaya dan ada beberapa budaya yang masih digunakan untuk manusia di zaman modern saat ini.
Ciri dari zaman Neolitikum ini ialah:
1. Peralatan yang sudah dihaluskan dan diberi tangkai.
2. Jenis alat yang dipergunakan adalah kapak persegi dan kapak lonjong.
3. Pakaian terbuat dari kulit kayu, perhiasannya terbuat dari batu dan manik-manik.
4. Telah bertempat tinggal menetap (sedenter).
5. Telah mempunyai kemampuan untuk bercocok tanam dabn beternak.
6. Telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

7. Mereka juga sudah mulai membuat banyak tembikar dari tanah liat untuk membuat alat-alat rumah tangga.
     Masyarakat pada zaman neolitikum ini memiliki ciri yang khas. Salah satunya ialah sikap terhadap alam kehidupan sudah mati. Kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang meninggal sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Upacara yang paling menyolok adalah upacara pada waktu penguburan terutama bagi mereka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. Biasanya yang meninggal dibekali bermacam-macam barang keperluan sehari-hari seperti perhiasan, periuk, dan lain-lain agar perjalanan si mati ke alam arwah terjalin keselamatannya.
     Jasad seseorang yang telah mati dan mempunyai pengaruh kuat biasanya diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar. Jadi, bangunan itu menjadi medium penghormatan, tempat singgah, dan lambang si mati. Bangunan-bangunan yang dibuat dengan menggunakan batu-batu besar itu pada akhirnya melahirkan kebudayaan yang dinamakan megalitikum (batu besar). Salah satu contoh bangunan megalitikum adalh kubur batu, sarkofagus ,dan waruga yang ketiganya berfungsi sebagai makam.
     Kemajuan masyarakat dalam masa neolitikum ini tidak saja dapat dilihat dari corak kehidupan mereka, tetapi juga bisa dilihat dari hasil-hasil peninggalan budaya mereka. Yang jelas mereka semakin meningkat kemampuannya dalam membuat alat-alat kebutuhan hidup mereka. Alat-alat yang berhasil mereka kembangkan antara lain beliung persegi, kapak lonjong, alat-alat obsidian, mata panah, gerabah, perhiasan, dan bangunan megaltikum.
   Berikut alat alat atau hasil kebudayaan pada masa Neolitikum:
1. Beliung persegi atau kapak persegi ditemukan hampir seluruh kepulauan Indonesia, berfungsi sebagai:
  • Tajak untuk menanam tumbuhan`
  • Pisau untuk mengetam padi.
  • Alat pembuat perahu(memotong, mengerat, memukul).
  • Alat yang kecil sebagai pahat.
  • Komoditas dagang (barter).
  • Bekal kubur.
2. Kapak lonjong yang berfungsi sama dengan kapak persegi. 
3. Alat-alat obsidian merupakan alat-alat yang dibuat dari batu kecubung. 
4. Gerabah yang mempunyai fungsi sebagai wadah atau tempat untuk keperluan rumah tangga. 
5. Perhiasan (gelang dan kalung yang terbuat dari batu indah). 
6. Pakaian dari kulit kayu. 
7. Tembikar ( Periuk belanga ).

D.    Zaman Megalitikum
Megalitikum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan "Zaman batu besar".
 Megalitikum berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kta mega dan lithos. Kata mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. Kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai Zaman Perunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupun kepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kepercayaan ini muncul karena pengetahuan manusia sudah mulai meningkat.

Kepercayaan pada zaman ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Animisme, yaitu suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu yang adadibumi baik itu hidup ataupun mati mempunyai roh.
2.      Dinamisme, yaitu kepercayaan yang menyakini  bahwa semua benda-benda yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan ghaib, misalnya pada pohon, batu besar, gunung, gua, azimat dan benda-benda lain yang dianggap keramat.

     
Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu:

1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.

2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.

   Apa yang dinyatakan dalam uraian di atas, dibuktikan dengan adanya penemuan bangunan batu besar seperti kuburan batu pada zaman prasejarah, banyak ditemukan manik-manik, alat-alat perunggu dan besi. Hasil kebudayaan megalithikum biasanya tidak dikerjakan secara halus, tetapi hanya diratakan secara kasar dan terutama hanya untuk mendapatkan bentuk yang diperlukan.

   Kebudayaan Megalitikum meninggalkan beberapa benda peninggalan. Beberapa benda tersebut juga masih digunakan oleh suku suku tertentu, seperti suku Nias.
Peninggalan kebudayaan Megalitikum, antara lain:

1. Menhir
   Menhir adalah bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang, sehingga bentuk menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain yaitu seperti punden berundak-undak. Lokasi tempat ditemukannya menhir di Indonesia adalah Pasemah (Sumatera Selatan), Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Pembuatan menhir ditujukan untuk penghormatan terhadap roh nenek moyang. Selain menhir terdapat bangunan yang lain bentuknya, tetapi fungsinya sama yaitu sebagai punden berundak-undak.
2. Punden Berundak-undak
   Punden berundak-undak adalah bangunan dari batu yang bertingkat-tingkat dan fungsinya sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal. Bangunan tersebut dianggap sebagai bangunan yang suci, dan lokasi tempat penemuannya adalah Lebak Sibedug/Banten Selatan dan Lereng Bukit Hyang di Jawa Timur, sedangkan mengenai bentuk dari punden berundak dapat Anda amati gambar-gambar berikut ini.
3. Dolmen
   Dolmen merupakan meja dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu.
   Dengan demikian dolmen yang berfungsi sebagai tempat menyimpan mayat disebut dengan kuburan batu. Lokasi penemuan dolmen antara lain Cupari Kuningan / Jawa Barat, Bondowoso / Jawa Timur, Merawan, Jember / Jatim, Pasemah / Sumatera, dan NTT. Bagi masyarakat Jawa Timur, dolmen yang di bawahnya digunakan sebagai kuburan/tempat menyimpan mayat lebih dikenal dengan sebutan Pandhusa atau makam Cina.
4. Sarkofagus
  Sarkofagus adalah keranda batu atau peti mayat yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup. Dari Sarkofagus yang ditemukan umumnya di dalamnya terdapat mayat dan bekal kubur berupa periuk, kapak persegi, perhiasan dan benda-benda dari perunggu serta besi. Daerah tempat ditemukannya sarkofagus adalah Bali. Menurut masyarakat Bali Sarkofagus memiliki kekuatan magis/gaib. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa sarkofagus dikenal masyarakat Bali sejak zaman logam.
5. Peti kubur
  Peti kubur adalah peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar. Kubur batu dibuat dari lempengan/papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya juga berasal dari papan batu. Dari penjelasan tentang peti kubur, tentu aja lo dapat mengetahui persamaan antara peti kubur dengan sarkofagus, dimana keduanya merupakan tempat menyimpan mayat yang disertai bekal kuburnya.
6. Arca batu
   Arca/patung-patung dari batu yang berbentuk binatang atau manusia. Bentuk binatang yang digambarkan adalah gajah, kerbau, harimau dan moyet. Sedangkan bentuk arca manusia yang ditemukan bersifat dinamis. Maksudnya, wujudnya manusia dengan penampilan yang dinamis seperti arca batu gajah. Arca batu gajah adalah patung besar dengan gambaran seseorang yang sedang menunggang binatang yang diburu. Arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera Selatan). Daerah-daerah lain sebagai tempat penemuan arca batu antara lain Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

7. Waruga
  Waruga adalah peti kubur peninggalan budaya Minahasa pada zaman megalitikum. Didalam peti pubur batu ini akan ditemukan berbagai macam jenis benda antara lain berupa tulang- tulang manusia, gigi manuisa, periuk tanah liat, benda- benda logam, pedang, tombak, manik- manik, gelang perunggu, piring dan lain- lain. Dari jumlah gigi yang pernah ditemukan didalam waruga, diduga peti kubur ini adalah merupakan wadah kubur untuk beberapa individu juga atau waruga bisa juga dijadikan kubur keluarga (common tombs) atau kubur komunal. Benda- benda periuk, perunggu, piring, manik- manik serta benda lain sengaja disertakan sebagai bekal kubur bagi orang yang akan meninggal.

Udah dulu ya, gaeeez. Well, do not forget to check my friend's blog, yang isinya mantap. Sumber referensi utama gue tuh. Linknya yang teratas di daftar sumber referensi gue. Salve!

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Sumber referensi:
http://nabilllaaaa.blogspot.co.id/
http://smatabelajar.blogspot.co.id/2012/09/sejarah-kelas-x.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Paleolitikum
https://id.wikipedia.org/wiki/Mesolitikum
https://id.wikipedia.org/wiki/Neolitikum



Powered by Blogger.